Sunday, January 10, 2016

ENERGI BUNYI : Bunyi Merambat Melalui Media Padat, Cair dan Gas

Sebelumnya kita telah membahas tentang energi panas, Lah pada postingan kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang energi lainnya yaitu energi bunyi. Bunyi disebabkan benda yang bergetar. Semua benda yang dapat menghasilkan bunyi disebut sumber bunyi. Contoh sumber bunyi, misalnya drum, gitar, seruling, kaleng yang jatuh, meja yang dipukul, dan klakson.





Getaran bunyi merambat ke segala arah sebagai gelombang. Makin jauh sumber bunyi, bunyi terdengar makin lemah. Bunyi yang kita dengar merupakan energi kuat dan lemah. Bunyi kuat ditimbulkan oleh getaran yang kuat, sedangkan bunyi lemah oleh getaran yang lemah. Kuat lemah bunyi ditentukan oleh simpangan getaran. Satu kali gerak ke atas dan ke bawah disebut satu getaran. Adapun banyak getaran dalam satu detik disebut frekuensi. Bunyi dengan frekuensi teratur disebut nada, sedangkan bunyi dengan frekuensi tidak teratur disebut desah.

Manusia dapat mendengar bunyi yang jumlah getarannya berkisar 20 sampai 20.000 getaran per sekon, yang disebut audiosonik. Infrasonik adalah bunyi yang getarannya kurang dari 20 getaran per sekon. Bunyi infrasonik hanya dapat didengar oleh hewan tertentu, misalnya jangkrik dan gajah. Adapun bunyi yang getarannya lebih dari 20.000 getaran per sekon disebut ultrasonik. Bunyi ultrasonik hanya dapat didengar oleh hewan-hewan tertentu, misalnya lumba-lumba dan kelelawar.

Telinga manusia lebih peka terhadap bunyi dengan frekuensi sekitar 1000 getaran per sekon. Tingkat frekuensi tersebut merupakan percakapan biasa. Ketika berbisik, suara kita mencapai 50 getaran per sekon, sedangkan ketika berteriak dapat mencapai 10.000 getaran per sekon.

Bunyi memiliki tingkat kekerasan atau intensitas. Satuan kekerasan bunyi adalah desibel (dB). Suara terpelan yang dapat didengar mempunyai intensitas sebesar 0 dB. Sedangkan bunyi yang keras dan membuat telinga sakit memiliki intensitas sebesar 139 dB. Tingkat kekerasan sumber bunyi berbeda satu sama lain.

1. Perambatan Bunyi

Bunyi dapat merambat dari sumber bunyi di tempat lain melalui media. Coba bayangkan jika anda diluar angkasa,  di luar angkasa tidak ada udara atau disebut hampa udara. Pada ruang hampa udara, bunyi tidak dapat terdengar. Maka anda tidak akan bisa mendengar pada saat di luar angkasa (terkecuali menggunakan media tertentu). Media perambatan bunyi adalah benda padat, cair, dan gas. Perambatan bunyi juga memerlukan waktu. Kecepatan perambatan bunyi disebut juga cepat rambat bunyi. Berdasarkan penelitian, cepat rambat bunyi pada baja kira-kira 6000 m per sekon, di air kira-kira 1500 m per sekon, dan di udara pada suhu 20 °C adalah 343 m per sekon.

a. Bunyi merambat melalui benda padat

Kecepatan perambatan bunyi melalui berbagai jenis benda tidak sama. Perambatan bunyi melalui benda padat lebih cepat terdengar daripada melalui benda cair atau gas. Tempelkan telingamu ke dinding! Mintalah temanmu untuk memukul bagian dinding yang lain! Bunyi pukulan akan terdengar. Hal ini menunjukkan bahwa bunyi merambat melalui benda padat. Bunyi pukulan dinding terdengar lebih keras melalui dinding dari pada melalui udara. Jadi bunyi merambat lebih baik melalui benda padat daripada udara.

b. Bunyi merambat melalui benda cair

Perambatan bunyi dapat melalui air. Ketika kita membenturkan dua buah batu di dalam air, bunyinya bisa terdengar dari luar air. Hal ini menunjukkan bahwa bunyi merambat melalui air. Bunyi benturan tersebut lebih lemah dibandingkan bunyi benturan batu di luar air. Hal ini menunjukkan bahwa rambatan bunyi melalui air kurang baik dibanding melalui udara.

c. Bunyi merambat melalui benda gas

Salah satu benda gas adalah udara. Bunyi dapat melalui udara, seperti bunyi guntur yang sering kita dengar pada saat hujan. Ketika terjadi guntur, tekanan udara berubah, yaitu naik turun. Perubahan tekanan ini terus berpindah melalui tumbukan bagian-bagian kecil molekul udara. Dengan demikian, gelombang bunyi merambat ke segala penjuru dan terdengar dari berbagai arah. Contoh lain, pada saat lonceng dipukul, kita mendengar bunyinya. Hal ini menunjukkan bahwa bunyi merambat melalui udara.
 
Bunyi dapat merambat melalui benda padat, cair, dan gas.



Bunyi Mempunyai Sifat Diserap dan Dipantulkan


Halo sahabat sekalian, pernah gak mendengar istilah peredam suara?

Di tempat-tempat tertentu seperti di Studio Musik, Tempat Karaoke, sampai dengan pesawat terbang. Kita merasa bahwa suara yang ada di dalam ruangan tidak terdengar di luar. Begitupun sebaliknya. 

Pertanyaannya, kok bisa ya?

Sahabat sekalian, saat kita berada di luar ruangan kita tidak mendengar suara orang bermain musik di dalam studio musik di sebabkan oleh peredam suara yang terpasang di ruangan tersebut. Peredam suara dapat menyebabkan suara di serap. Jadi suara yang keluar oleh alat musik dapat diserap oleh peredam suara.

Cerita diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa bunyi mempunyai sifat dapat diserap.

Untuk lebih jelas memhami materi tentang Sifat Bunyi dapat diserap dan dipantulkan, silahkan simak konten artikel berikut ini.

ENERGI BUNYI : SIFAT BUNYI DISERAP DAN DIPANTULKAN

Sebelumnya kita sudah ketahui bahwa kita dapat mendengarkan suara karena adanya getaran dan getaran itulah yang dapat menimbulkan bunyi. Bunyi dapat merambat memalui tiga cara yaitu merambat melalui benda padat, merambat melalui benda cair dan merambat melalui gas.

Bunyi mempunyai sifat dapat diserap dan dipantulkan. Bunyi akan di pantulkan jika mengenai benda yang permukaannya keras. Sementara bunyi akan di pantulkan jika mengenai benda yang mempunyai permukaan lunak, maka bunyi itu akan diserap. Dari situ maka muncul benda yang disebut peredam suara. Ada beberapa benda dengan permukaan lunak yang dapat menjadi peredam suara bunyi diantaranya; karpet, woll, kertas, spon, busa, kalin dan karet.  Jadi benda-benda itu dapat digunakan untuk menghindari terjadinya pantulan suara atau gaungan.

Dimanakah peredam bunyi dipasang? ada beberapa tempat yang umum kita jumpai dipasang peredam bunyi, dianatarnya; gedungbioskop, studio musik atau rekaman, dan ruang pertemuan.

1. Pantulan Bunyi

Seperti sudah dijelaskan bahwa pantulan bunyi terjadi akibat getaran bunyi mengenai benda dengan permukaan keras. Permukaan keras pada benda tersebut tidak menyerap bunyi melainkan memantulkannya kembali, sehingga kita dapat mendengarkan suara dari bunyi yang dipantulkan.
Ada dua jenis bunyi pantul yang harus kita ketahui, yaitu bunyi gaung dan gema.

a. Gaung
Gaung adalah suara pantulan yang kita dengan waktunya hampir bersamaan dengan bunyi aslinya. Karena waktunya hampir bersamaan, gaung menyebabkan suara aslinya kurang begitu jelas karena terganggu atau di tabrak oleh suara pantulan.
Misal :
Bunyi Asli : ke-ma-ri
Bunyi Pantul : ke-ma-ri
Bunyi Terdengar :  ke - - - - - ri

b. Gema
Gema adalah bunyi pantul yang terdengar setelah bunyi asli. Jaraknya tidak berdekatan, artinya bunyi pantulan suaranya muncul setelah bunyi asli selesai. Gema bisa terjadi jika sumber bunyi dan dinding pantul jaraknya jauh. Sebagai contoh, ketika kita berada di tebing, kemudian kita meneriakkan kalimat “Ayah” maka suara pantulan “ayah” akan keluar setelah suara asli menghilang. Gema ini sering terjadi di lereng bukit, gua, permukaan keras atau rapat.

Bunyi pantul juga dapat bermanfaat, seperti memperkuat bunyi asli. Hal ini dapat terjadi jika jarak dinding pantul tidak jauh dari sumber bunyi. Misalnya kereta api yang masuk kedalam lorong (terowongan) maka suaranya semakin kuat.

Berdasarkan penjelasan di atas maka kuat bunyi yang kita dengan disebabkan oleh beberapa faktor, dianataranya:
  1. amplitudo sumber bunyi,
  2. jarak antara sumber bunyi dengan pendengar,
  3. resonansi yang terjadi,
  4. serta adanya dinding pemantul yang sesuai.